aq mencoba untuk tersenyum tiap kali memandang ceriamu,namun tiap kali qu membaca tlisan tlisan tawa dan candamu dngan yg lain akupun berlalu membwa kcwa,,
cinta ini bukan kata kata,perih ini terasa apa adanya,,

aq pernah mencintai dan di cintai,tapi tak seperti ini,,kali ini cinta yg menghampiriqu bukan cinta biasa.,
aq pernah menyayangi, merindukan dlam nyata,,tak sehebat sayang dan rindu yg aqu alami kali ini,,
seperti kata usang menyindir banyak bintang di langit hanya satu yg terang,menjelma dalam diriku bgai bayang bayang,,
cintaqu nyata bukan maya.,,sayang,,

SESAL

akupun terisak dalam nyata,,
ketika cintamu menyapa dngan rasa yg berbeda,,
ada getir hadir bersama luka,sesalpun kunjung jua,,
luka dari cemburu melekat rapat di sela sela rindu yg memuncak hingga cinta ini mengalahkan semua curiga,,saat kusadar engkaupun berlalu,,
ratapan..,yah ratapan di antara penyesalan tiada guna,berharaf hari akan terulang atau aku yg tlah tiada,,
aku hanya salah dalm penilaian,hasil akhr tak pernah kau tau btapa aku menjujung rasa setia..

Kumpulan syair dan puisi.
Pujangga Malam

KESUKSESSAN MANUSIA PADA AMAL AGAMA YG SEMPURNA

Kesuksesan
Manusia ada pada
‘Amal Agama yang
Sempurna..!! Bismillah…
Assalammualaikum
warohmatullahi
wabarokatuh Nahmaduhu wanusolli
wanusallimu ‘ala rasulihil
karim.. Saudaraku yang senantiasa mengharapkan ridho Allah SWT… Sesungguhnya kesuksesan, kejayaaan dan kebahagiaan manusia hanya pada amal agama yang sempurna seperti yang dicontohkan oleh Rasullullah SAW dan Para Sahabat ra. Tidak ada cara lain untuk dapatkan daripada kebahagiaan manusia, hanya dengan mengamalkan agama secara sempurna, inilah fitrah manusia. Banyak contoh didalam Alquran, bagaimana
manusia buat daripada usaha untuk mencapai daripada kebahagiaan di dunia tidak sesuai dengan fitrahnya manusia, maka kebinasaan dan kehinaan yang mereka terima.
Boleh kita ambil contoh dalam Al-Quran, bagaimana Allah SWT beri kita suatu gambaran apabila manusia mencoba mencari kebahagiaan selain daripada agama. Raja Firaun Laknatullah, seorang raja dzalim yang berusaha mencari kebahagiaan melalui kekuasaan. Ia beranggapan bahwa kekuasaan dapat memberinya kebahagiaan. Sehingga dengan kekuasaannya itu ia menganggap dirinya Tuhan dihadapan rakyatnya. maka Allah SWT hinakan dia dengan asbab air, allah SWT tenggelam dia bersama bala tentaranya di samudera. Begitu pula Raja Namrud laknatullahaalaih yang Allah SWT hinakan dengan asbab seekor nyamuk yang pincang. Sehingga seluruh bala tentaranya memukuli kepala Raja Namrud untuk menghentikan rasa sakit yang mendera kepalanya. Hingga akhirnya meninggal dalam keadaan hina dan kesakitan yang luar biasa. Mudah bagi Allah SWT untuk menghinakan seseorang yang menentang- Nya. maka Umat pada saat ini pun yang yakin bahwa kekuasaan yang tinggi dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat hendaknya berkaca daripada peristiwa tersebut.
Boleh lagi kita ambil contoh, Bagaimana Allah SWT dengan qurat dan iradat-Nya menghinakan seorang Qorun, seorang yang yakin bahwa kebahagiaan akan didapat dari harta yang banyak. allah SWT berikan Qorun kelebihan ilmu sehingga mampu buat daripada segala
benda menjadi emas. Namun
asbab tidak ada kebesaran Allah SWT dalam hatinya, maka Allah SWT perintahkan bumi untuk membenamkan Qorun beserta harta-hartanya.
Sudah banyak contoh- contoh yang telah Allah SWT gambarkan kepada kita dalam Alquran. maka hendaknya kita senantiasa belajar dari hal-hal tersebut. Mari kita tawajukkan diri kita kepada Allah SWT, bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah, kita ini hanya hamba Allah yang lemah. Jangan kita merasa sombong dengan segala harta, kekuasaan, dan kekuatan yang kita miliki saat ini. Karena semua itu hanyalah titipan dan ujian dari Allah SWT. Saudaraku yang senantiasa mengharapkan ridho Allah SWT… Hendaklah tiada keraguan lagi dalam diri kita bahwasan-Nya kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat ada pada ‘amal agama yang sempurna seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Masukkah kebesaran- kebesaran Allah dalam hati kita, maka Insya Allah kebahagiaan itu akan hadir dalam kehidupan kita. jangan sekali-kali kita menjadi orang yang bodoh, sehingga berpikiran yang sama seperti musuh-musuh Allah SWT diatas. Semoga Allah SWt berikan kepahaman kepada kita semua. wassalamualaikum
warohmatullahi
wabarokatuh..

Sampingan

MERAIH AMPUNAN ALLAH SWT AL GHAFUR DI BULAN RAMADHAN.

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH..,
Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan
Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka. [HR. Muslim, no. 2749]

Dosa telah ditakdirkan pada manusia dan pasti terjadi. Allah Azza wa Jalla telah mensyariatkan faktor-faktor penyebab dosanya, agar hatinya selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat ‘ujub (mengagumi diri sendiri), ghurûr (terperdaya dengan amalan pribadi) dan kesombongan. Dosa-dosa banyak diampuni di
bulan Ramadhan, karena bulan itu merupakan bulan rahmat, ampunan, pembebasan dari neraka, dan bulan untuk melakukan kebaikan. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan kesabaran yang pahalanya adalah surga. Allah Azza wa Jalla berfirman:Sesungguhnya hanya orang- orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. [az-Zumar/39:10] Puasa adalah perisai dan penghalang dari dosa dan kemaksiatan serta pelindung dari neraka. Dalam hadits shahîh dijelaskan:Sesungguhnya Nabi mengucapkan amîn sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdoa. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amîn”. Beliau menjawab: “Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”.
Seorang Muslim yang berusaha mendapatkan ampunan dosa, akan berbahagia dengan adanya amalan-amalan shalih agar Allah Azza wa Jalla menghapuskan dosa dan perbuatan jeleknya, karena kebaikan bisa menghapus kejelekan. Sebab-sebab ampunan yang disyariatkan itu di antaranya:
1. TAUHID
Inilah sebab teragung. Siapa yang tidak bertauhid, maka kehilangan ampunan dan siapa
yang memilikinya maka telah memiliki sebab ampunan yang
paling agung. Allah Azza wa Jalla berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [an- Nisâ‘/4:48] Siapa saja yang membawa dosa sepenuh bumi bersama tauhid, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan ampunan sepenuh bumi kepadanya. Namun, hal ini berhubungan erat dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Apabila Diak berkehendak, akan mengampuni. Dan bisa saja, Dia Azza wa Jalla berkehendak untuk menyiksanya. Siapa yang merealisasikan kalimatut tauhîd di hatinya, maka kalimatut tauhîd tersebut akan mengusir kecintaan dan pengagungan kepada selain Allah Azza wa Jalla dari hatinya. Ketika itulah dosa dan kesalahan dihapus secara keseluruhan, walaupun sebanyak buih di lautan. ‘Abdullâh bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menyendirikan seorang dari umatku (untuk dihadapkan) di depan semua makhluk pada hari Kiamat. Lalu Allah menghamparkan sembilan puluh sembilan lembaran (catatan amal) miliknya. Setiap lembaran seperti sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman: “Apakah kamu mengingkarinya? Apakah malaikat pencatat amalan menzhalimimu”. Maka ia pun menjawab: “Tidak wahai Rabbku”. Lalu Allah berfirman lagi: “Apakah kamu memiliki udzur?” ia menjawab: “Tidak ada wahai Rabb”. Lalu Allah berfirman: “(Yang benar) ada, sesungguhnya kamu memiliki kebaikan di sisi Kami, tidak ada kezhaliman atasmu pada hari ini”. Lalu dikeluarkan satu kartu berisi syahadatain. Kemudian Allah berfirman: “Masukanlah dalam timbangan!” Ia pun berkata: “Wahai Rabbku apa gunanya kartu ini dibandingkan lembaran-lembaran itu?” Maka
Allah berfirman: “Sungguh kamu tidak akan dizhalimi”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selanjutnya lembaran- lembaran tersebut diletakkan dalam satu anak timbangan dan kartu tersebut di anak timbangan yang lain. Ternyata
lembaran-lembaran terangkat tinggi dan kartu tersebut lebih
berat. Maka tidak ada satu pun yang lebih berat dari nama Allah”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi menyatakan:
Allah berfirman: Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa dosa sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan. [HR Muslim]. Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allah Azza wa Jalla dengan pengampunan seluruh dosa yang ada pada lembaran- lembaran tersebut dengan kalimat tauhid. Karena kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab. Allah Azza wa Jalla menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi; namun hamba tersebut telah mewujudkan tauhid, maka Allah Azza wa Jalla menggantikannya dengan ampunan.

2. DOA DENGAN PENGHARAPAN
Allah Azza wa Jalla memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkannya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. [Ghâfir/40:60] Doa adalah ibadah. Doa akan dikabulkan apabila memenuhi kesempurnaan syarat dan bersih dari penghalang- penghalang. Kadangkala, pengabulan itu tertunda, karena sebagian syarat tidak terpenuhi atau adanya sebagian penghalangnya. Di antara syarat dan adab terkabulnya doa adalah kekhusyukan hati, mengharapkan ijâbah dari Allah Azza wa Jalla, sungguh- sungguh dalam meminta, tidak menyatakan insya Allah (Ya Allah Azza wa Jalla, kabulkanlah permintaanku bila Engkau menghendakinya-)tidak tergesa-gesa mengharap pengabulan, memilih waktu-waktu dan keadaan yang mulia, mengulangulang doa tiga kali dan memulainya dengan pujian kepada Allah Azza wa Jalla dan shalawat, berusaha memilih makanan dan minuman yang halal dan lain- lain. Di antara permohonan terpenting yang dipanjatkan seorang hamba kepada Rabbnya yaitu permohonan agar dosa-dosanya diampuni atau pengaruh dari pengampunan dosa seperti diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Kepada seseorang yang berujar: “Saya tidak mengetahui doamu dengan perlahan yang juga dilakukan Mu’âdz.
Permohonan kami di seputar itu..
Maksudnya doa kami itu berkisar pada permohonan agar dimasukkan surga dan diselamatkan dari neraka. Abu Muslim al-Khaulâni mengatakan: “Tidaklah datang kesempatan berdoa kepadaku, kecuali saya jadikan doa itu permohonan agar dilindungi dari api neraka.”
oleh:Ryan Romansyah alghifary

DAKWAH ILALLAH

Pada jaman sekarang
ini, Allah SWT memberikan
kepada kita usaha dakwah
yang sangat mulia.
Sebenarnya kita bukan
ahlinya dalam dakwah seperti ini. Dan dalam diri
kita sebenarnya tidak ada
keahlian untuk berbuat
demikian. Apalagi kalau
kita tengok dalam
kehidupan kita di masa lalu, latar belakang kita di masa
lalu, apa yang terjadi dalam
diri kita sendiri. Apabila kita
melihat keahlian,
kemampuan yang ada pada
diri kita, sebenarnya kita tidak memiliki kemampuan
untuk mengerjakan
dakwah ini. Tetapi hanya
semata-mata karena
karunia dari Allah SWT,
maka Allah letakkan kemudahan dalam dakwah
ini. Bagi Allah SWT, apapun
yang ada di muka bumi ini,
tidak ada nilainya sama
sekali di sisi Allah SWT. Dan
apabila Allah SWT ingin memberikan penilaian atau
penghargaan terhadap
seseorang, maka Allah SWT
jadikan dia sebagai seorang
da’i. Nabi Sulaiman AS minta
untuk diberikan kerajaan, maka langsung diberikan
oleh Allah SWT kerajaan
tersebut, tanpa
menyebutkan kebaikan-
kebaikan yang ada pada
Beliau. Demikian pula pada saat Nabi Zakaria AS
meminta anak, maka
diberikan oleh Allah SWT
permintaan tersebut, tanpa
menyebutkan kebaikan-
kebaikan Nabi Zakaria AS. Tetapi, ketika Nabi Musa AS meminta agar
saudaranya yaitu Harun AS
agar dapat juga dijadikan
sebagai Nabi untuk
membuat amalan ini yaitu
mengerjakan dakwah, maka sebelum memberikan
jawaban atas permintaan
Musa AS, Allah SWT
pertama kali menyebutkan
kebaikan-kebaikan yang
ada pada diri-Nya. Sebelum memberikan jawaban atas
permintaan Musa AS agar
Harun AS dijadikan Nabi
tadi, maka Allah SWT
menceritakan kebaikan-
kebaikan yang Dia kerjakan kepada Musa AS,
dikatakannya bahwa Dia-
lah yang memelihara Musa
AS dalam kotak kemudian
dihanyutkan dalam air, dan
juga dipeliharanya Musa AS di kerajaan Fir’aun,
kemudian dikembalikan
kepada ibunya lagi. Dan
Allah-lah yang memelihara
Beliau dari cengkeraman
Fir’aun dan tentaranya, ketika Musa AS telah
membunuh seseorang dan
pergi ke salah satu tempat.
Setelah Allah SWT
menceriterakan sekian
banyak kebaikan-kebaikan- Nya, maka Allah SWT
mengabulkan permintaan
Musa AS. Dan Allah katakan
kepada Musa AS dan Harun
AS, agar keduanya pergi
kepada Fir’aun. Jadi kenapa Allah SWT ceriterakan
panjang lebar, baru
kemudian memenuhi
permintaan Musa AS ?. Hal
ini dimaksudkan untuk
menjelaskan kepentingan usaha dakwah dan
kemulian dari amalan ini. Segala apa yang
terdapat dalam tujuh lapisan
langit dan tujuh lapisan
bumi dibandingkan nilai
atau harga seorang da’i
sama sekali tidak ada nilainya di sisi Allah SWT.
Hari ini, kita dijadikan oleh
Allah SWT untuk
mengerjakan dakwah tanpa
meminta kepada Allah
sebelumnya, tanpa melihat kemampuan yang ada pada
diri kita, tetapi semata-mata
karena Ikhsan-nya Allah,
Allah telah memilih kita,
maka hendaknya kita betul-
betul bersyukur kepada Allah SWT. Sebenarnya,
tanpa harus meminta
kepada Allah SWT, Musa AS
mampu membawa Harun
AS untuk mengerjakan
dakwah. Namun demikian Musa AS sadar, tanpa
meminta kepada Allah SWT,
maka kemampuan dan
kelebihan yang ada pada diri
Musa AS tidak akan ada
pada diri Harun AS. Musa AS menginginkan agar
pertolongan Allah yang ada
pada diri Musa AS, juga ada
pada diri Harun AS.
Maksudnya, apabila dakwah
ini kita kerjakan sendiri, maka pahala akan kita
dapatkan. Tetapi, apabila
kita kerjakan usaha ini
dengan sering
bermusyawarah dan
bertanya dengan orang yang lebih tahu, dan kita
tidak keluar atau bebas dari
musyawarah, maka bukan
hanya sekedar pahala saja,
tetapi pertolonagn Allah
juga akan kita dapatkan. Oleh karena itu, marilah kita niatkan betul-
betul agar kita tidak lepas
dari musyawarah. Baik
yang diangkat sebagai amir
atau mereka yang menjadi
makmur, hendaknya selalu mengikatkan diri dengan
musyawarah. Maulana Ilyas
Rah.A, Maulana Yusuf Rah.A
dan Maulana In’amul Hasan
Rah.A, ketiga-tiganya
dijadikan oleh Allah SWT sebagai asbab tersebarnya
agama ini, jadi ketiga-
tiganya buat usaha ini, dan
tidak pernah mengerjakan
sesuatu tanpa melakukan
musyawarah dengan sahabat-sahabatnya terlebih
dulu. Bahkan waktu
sakitpun, dan diperlukan
berobat, Beliau tidak pernah
menentukan sendiri kepada
siapa harus berobat, tetapi Beliau bermusyawarah dulu
dengan sahabat-sahabatnya
dokter mana yang dipilih
tersebut dan bagaimana cara
pengobatannya. Maka
dengan demikian, datanglah rahmat, datanglah
keberkatan dan bimbingan
dari Allah SWT, kalau
seseorang bekerja dengan
tidak melepaskan
musyawarah. Allah SWT katakan, bahwa pekerjaan dakwah
ini adalah pekerjaan suatu
perdagangan. Perdagangan
yang bagaimana ?. Yaitu
perdagangan yang
membebaskan segala permasalahan yang dihadapi
manusia di permukaan bumi
ini, bebas dari azab di dunia
dan juga azab di akhirat.
Perdagangan dunia yang
kita lakukan di dunia saat ini yang disertai dengan
amanah dan kejujuran,
dikatakan oleh Nabi SAW
apabila pelakunya
melaksanakan dengan
amanah dan jujur, maka di hari kebangkitan nanti,
akan dibangkitkan bersama
dengan para Nabi dan para
Syuhada. Ini baru
perdagangan dunia saja. Orang yang dagang dunia diisi dengan
kejujuran, amanah dan diisi
dengan agama saja dapat
dibangkitkan bersama-sama
dengan para Nabi dan para
Syuhada, bagaimana kedudukan seseorang di
akhirat nanti yang dalam
perdagangan agama yaitu
dakwah ini, dia jumpai
manusia, dia arahkan
manusia kepada Allah Ta’ala dan setiap hari perdagangan
agama ini dilakukan, berapa
tinggi derajatnya di sisi
Allah SWT. Dikatakan oleh
Nabi SAW derajat antara
para Nabi dan Da’i, bedanya hanya satu derajat saja.
Juga do’a-do’a para da’i
ummat Rasulullah SAW ini,
di hari kiamat nanti, Allah
akan menerima do’anya
para da’i tersebut, sebagaimana Allah terima
do’anya para Nabi Bani
Israel. Perumpamaan dakwah yang kita kerjakan
ini, adalah seperti orang
yang bekerja pada Jawatan
Kereta Api. Di Jawatan
Kereta Api ini, banyak
pegawainya dan terdiri dari bermacam-macam
pekerjaan yang harus
ditanganinya, baik
masinisnya, pegawai yang
mengantur penjualan ticket,
kepala stasiun dan lain- lainnya termasuk tukang
sapunya. Kita ini bukan para
Nabi, kita bukan para
Anbiya yang bekerja penuh
dengan keahliannya, di
ibaratkan di Jawatan Kereta Api, kita ini hanya sebagai
tukang sapunya saja.
Namun demikian, walaupun
kita ini hanya sebagai
tukang sapu saja, tapi
namanya kita ini juga sebagai pekerja atau
pegawai di Jawatan Kereta
Api tersebut. Nanti apabila
pada suatu hari pemerintah
mengagumkan bahwa pada
hari “H” yang sudah ditentukan, pemerintah
akan memberikan hadiah
atau bonus kepada seluruh
pegawai Jawatan Kereta
Api, maka tidak hanya
Kepala Jawatan, Masinis, pegawai yang lain saja,
tetapi tukang sapupun juga
akan mendapatkan hadiah
dari pemerintah yang
dimaksud. Pada waktu hari
“H” yang ditentukan, tukang sapu juga pergi ke
bagian yang memberikan
hadiah tadi. Di tengah jalan,
apabila dia dihadang oleh
Polisi atau satpam di
Jawatan Kereta Api dan ditanya: “He, kamu siapa
dan mau kemana ?”.
Dijawabnyalah: “Saya
tukang sapu di Jawatan
Kereta Api, dan hari ini
pemerintah akan membagi- bagikan hadian kepada
seluruh pegawai di jajaran
Jawatan Kereta Api, oleh
karena itu saya akan
mengambil hak saya”.
Kemudian, Polisi atau satpam tersebut,
mengijinkan si tukang sapu
lewat, dan menerima
hadiah dari pemerintah
yang sudah dijanjikan. Demikianlah di hari kiamat nanti, saat manusia
dibangkitkan semua, maka
karena kita letakkan diri
kita dalam usaha Rasulullah
SAW, walaupun kita ini
istilahnya hanya sebagai tukang-tukang sapu dalam
amalan ini, nanti pada saat
dibagikan hadiah oleh Allah
SWT, kepada mereka-
mereka yang kerja dakwah
ini, walaupun kedudukan kita jauh dibandingkan
dengan kedudukan para
Nabi As dan para Sahabat
R.A. tetapi karena kita
menempatkan pekerjaan
kita seperti yang dilakukan oleh para Anbiya, walaupun
kita tidak mampu
menempatkan pekerjaan
seperti mereka, maka Allah
akan memberikan hadiah
pula seperti Allah memberikan kepada para
Anbiya dan para Sahabat
R.A. Di hari kiamat nanti, orang-orang datang
ingin minum di Telaga
Kautsar, yang mana
siapapun yang dapat minum
di telaga ini, tidak akan
merasa haus selama- lamanya. Pada saat itu
ummat Rasulullah SAW, ada
yang diberikan minum
langsung dari tangan
Rasulullah SAW. Kemudian
manusia yang lainnya, bertanya kepada Rasulullah
SAW : “Ya Rasulullah, saya
juga ummatmu, tetapi
mengapa kau beri
keistimewaan bagi sebagian
orang dengan cara Engkau berikan langsung minuman
itu kepada mereka,
sedangkan kami juga
ummat-mu ?”. Maka
dijawab oleh Rasulullah
SAW : “Kalian hanya mengerjakan pekerjaan
para Anbiya (beribadah),
sedangkan mereka
mengerjakan pekerjaanku
(berdakwah)”. Maka dari
itu, kita betul-betul bersyukur, atas nikmat
yang diberikan oleh Allah
SWT tadi. Cara bersyukur
itu, harus dengan tiga
perkara. Yang pertama
dengan lisan kita ucapkan “Alhamdulillah” bersyukur
kepada Allah. Kedua, di hati
kita tanamkan keyakinan
bahwa kenikmatan
tersebut datangnya dari
Allah. Ketiga, kita juga harus bersyukur dengan
amalan. Bagaimana cara
mensyukuri dengan
amalan ?. Bukan dengan
cara berdakwah 4 bulan
kemudian cuti, atau berdakwah 40 hari
kemudian istirahat dan
berdakwah 3 hari kemudian
selesai, tapi bukti
kesyukuran kita kepada
Allah, lagi dan lagi kita kerjakan amalan ini sampai
kita dipanggil oleh Allah
SWT. Karena amalan ini adalah amalan Nabi, maka
akan berjalan sesuai dengan
sifat-sifat Nabi pula. Kalau
dakwah ini, dikerjakan
sesuai dengan sifat-sifat
yang ada pada Nabi SAW, maka pertolongan Allah,
kebersamaan Allah, akan
bersama dengan ummat ini,
selama ummat ini
mengerjakan dakwah
sesuai dengan sifat-sifat Nabi SAW. Apabila
pekerjaan dakwah ini
hidup, maka agamapun
akan hidup. Sedangkan
apabila dakwah tidak ada,
maka agama akan mati. Begitulah sejarah para
Anbiya semuanya. Nabi
datang, kemudian buat
usaha agama dan agamapun
hidup. Ketika Nabinya
meninggal semua ummatnya waktu itu
mengerjakan agama,
mereka sholat, mereka
puasa, mereka membayar
zakat, tetapi dakwah sudah
tidak ada lagi. Setelah dakwah tidak ada lagi
dengan wafatnya Nabi
mereka, akhirnya lama
kelamaan ibadah mereka
menjadi bid’ah dan ke-
tauhid-an mereka berubah menjadi syirik, sehingga
ummat dalam kesesatan dan
Allah kirim Nabi lagi yang
baru. Maka Nabipun mulai
bekerja lagi, dan agamapun
mulai hidup. Kemudian Nabinya meninggal dunia,
dan kaummnya mulai
menuju kesesatan. Ketika
Nabinya meninggal, segala
bentuk ibadah ada, tetapi
hanya dakwah yang tidak ada. Maka ketika dakwah
tidak ada, yang pertama
kali hilang adalah ruh
daripada ibadah, dan lama
kelamaan ibadah itu sendiri
hilang dari kaum tersebut. Begitulah, ketika Nabi Muhammad SAW lahir,
keadaan ummat seperti itu.
Maka datanglah Nabi
Muhammad SAW diutus
oleh Allah SWT, sampai hari
kiamat. Jadi amalan ini, menjadi tanggungjawab
ummat semuanya. Apabila
ummat ini tidak sholat,
tidak puasa, tidak
membayar zakat,
meninggalkan yang halal, mengerjakan yang haram,
maka nanti di hari kiamat
akan dihisab oleh Allah SWT
dan akan ditentukan azab-
nya. Tetapi kalau ummat ini
meninggalkan dakwah, maka azabnya tidak hanya
di akhirat saja, sebelum
mereka mati, maka Allah
SWT akan turunnya
azabnya kepada ummat ini.
Di dunia akan diberikan dan bahkan setelah matipun
akan diberikan azabnya.
Karena tanggungjawab
dakwah yang telah
ditinggalkan oleh ummat,
maka mereka akan sesat dan orang-orang lainpun
akan ikut menjadi sesat
kemudian kesesatan terjadi
di seluruh dunia, sehingga
azabpun akan sangat besar
bagi ummat yang meninggalkan
tanggungjawab ini.
Tanggungjawab ummat ini
memang berat, oleh karena
itu semoga Allah SWT
memberikan taufiq dan hidayah untuk memikul
tanggungjawab tersebut. Sahabat Abu Bakar Shidiq R.A. katakan :
“Apabila kalian tetap ibadah
dan ibadah terus, maka
kalian nanti akan menjadi
asbab turunnya hidayah,
tetapi kalau kalian tinggalkan amar ma’ruf nahi
munkar, Allah akan hinakan
kalian, dan tidak hanya
dihinakan saja, tetapi do’a
kalian tidak akan diterima
oleh Allah Ta’ala”. Demikianlah sholat adalah
fardhu, puasa adalah fardhu
begitu pula amalan-amalan
fardhu yang lain, maka
dakwah untuk menjumpai
orang satu per satu, ini juga merupakan amalan fardhu.
Sebagian ulama mengatakan
dakwah ini adalah fardhu
kifayah. Baiklah, kalau
memang dakwah adalah
fardhu kifayah, tetapi untuk meningkatkan iman
seseorang seperti yang
dikehendaki oleh Rasulullah
SAW, ini adalah fardhu a’in
bagi setiap individu yang
harus dikerjakan untuk meningkatkan iman seperti
yang dikehendaki oleh
Rasulullah SAW. Dan bagi
setiap individu untuk dapat
meningkatkan iman, seperti
yang diinginkan oleh Rasulullah SAW, dengan
dakwah inilah akan
terbentuk. Oleh karena itu,
adalah tanggungjawab
setiap orang untuk
melaksanakan usaha dakwah ini. Kalau dakwah
ini kita kerjakan, dengan
penuh sifat, begitu pula
penuh dengan ushul, dengan
melalui musyawarah,
dengan ijtima’i amal, begitulah pula dengan
tertib-tertib yang diajarkan
oleh para Mashaikh kita,
Insya Allah amalan ini akan
terwujud sebagaimana
yang diinginkan oleh orang- orang tua kita dan akan
membuahkan hasil yang
baik. Rasulullah SAW, adalah seorang da’i yang
paling baik, da’i yang
terbesar serta tidak ada
seorangpun da’i yang dapat
melebihinya sampai hari
kiamat. Ada dua sifat yang paling tinggi terdapat pada
diri Rasulullah SAW. Yang
pertama adalah khusnudhon
(baik sangka) terhadap
Allah SWT, dan yang kedua
adalah khusnudhon kepada makhluk. Apapun yang
datang dari Allah SWT, Nabi
SAW tidak pernah berkeluh
kesah, tidak pernah marah
dan tidak pernah jengkel,
demikian pula apa yang datang dari makhluk
terhadap diri Beliau, tidak
pernah marah tidak pernah
menyalahkan makhluk
tersebut, bahkan Beliau
berkata : “Ya Allah sayalah yang berdosa, sayalah yang
salah”. Itulah dalil pada saat kejadian di Thaif.
Ketika Nabi SAW ke Thaif,
dan mulai berdakwah,
lantas orang-orang Thaif
menolak, bahkan melempari
Nabi SAW dengan batu, sehingga darah mengucur
sampai ke sepatu Beliau,
Nabi-pun pingsan dan jatuh
di jalan. Kemudian Zaid Bin
Haritsah yang pada waktu
itu bersama dengan Rasulullah SAW,
memanggul Nabi SAW
membawa keluar dari Thaif.
Setelah sampai tiba di salah
satu kebun, selanjutnya
tubuh Nabi SAW dibaringkan oleh Zaid Bin
Haritsah, dan Nabi-pun mulai
sadar. Setelah Nabi SAW
sadar, maka Jibril AS
datang. Jibril AS
mengucapkan salam dan kemudian menyampaikan
salam dari Allah SWT dan
mengatakan: “Wahai
Muhammad, Allah SWT
mengetahui bagaimana
engkau berdakwah dan juga mengetahui penolakan
dari kaum-mu dan segala
perbuatan mereka, saya
diutus oleh Allah dan
sebentar lagi akan datang
Malaikat Gunung, perintahkanlah kepada
Malaikat tersebut apa yang
engkau inginkan”. Tapi apa
yang dikatakan oleh Nabi
SAW kepada Jibril AS :
“Wahai Jibril, saya tidak ingin menjadi penyebab
kehancuran bagi kaum saya,
bahkan saya mendo’a
kepada Allah semoga Allah
memberikan hidayah
kepada mereka”. Kemudian Rasulullah SAW berdo’a: “Ya
Allah, berikanlah hidayah
kepada kaumku,
sesungguhnya karena
mereka belum tahu
terhadap masalah ini”. Selanjutnya Beliau terus
berdo’a dan melaporkan
kepada Allah, dengan
mengatakan: “Ya Allah saya
laporkan kepada-Mu akan
kelemahanku, dan ketidak mampuanku untuk
berdakwah sebagaimana
yang Engkau inginkan”. Jadi
Nabi SAW merasa tidak
mampu untuk berdakwah
seperti yang diinginkan oleh Allah SWT. Nabi merasa
bahwa dirinya yang salah ,
Beliau yang lemah dan ini
yang Beliau hadapkan
kepada Allah SWT, dan Nabi
meminta agar Allah SWT memberikan hidayah,
memberikan petunjuk
untuk kaumnya. Itulah hadirin sekalian, sifat seorang da’i,
tidak ada satupun perasaan
untuk membalas dendam.
Maka apabila di hati kita ada
perasaan dendam kepada
orang lain, akhirnya dakwahpun akan terhenti.
Jadi, seorang da’i itu siapa ?.
Yaitu orang yang siap
memaafkan orang lain.
Bahkan kepada musuh yang
memusuhinya, dia siap untuk mema’afkannya. Di jaman Sayidina Umar RA, ketika Beliau
menjadi khalifah, ada
seorang Raja telah
ditangkap dan dihadapkan
kepada Beliau. Sayidina
Annas RA yang membawa tawanan tersebut kepada
Sayidina Umar RA. Dan
Sayidina Annas
menceritakan perbuatan-
perbuatan Raja tersebut di
masa lalu, sehingga Sayidina Umar RA marah betul
terhadap tawanan tersebut.
Kemudian Sayidina Umar
RA menghunus pedangnya,
untuk memenggal leher
orang itu. Melihat situasi semacam ini, maka orang
tersebut minta air. Maka
Sayidina Umar RA
memberikan air dan
diambilkannya dengan
tangannya sendiri, tetapi tangannya gemetar. Maka
Umar katakan: “Laba’sa,
laba’sa, tidak apa-apa,
silahkah minum dengan
tenang”. Maka tawanan itu
minum air tadi. Setelah itu, pada saat Umar RA akan
memukulkan pedangnya,
maka Abu Musa Al-Ashay
RA mengatakan: “Wahai
Umar, engkau tidak akan
mampu menerbangkan leher dia. Karena engkau
telah memberikan
keamanan kepadanya
dengan mengatakan laba’sa,
laba’sa, tidak apa-apa.
Berarti ini sudah jaminan”. Maka Umar RA mengatakan
kepada Abu Musa: “Wahai
Abu Musa, cari saksi bahwa
saya mengatakan tadi,
kalau tidak bisa, maka
justru kepalamu sendiri yang akan saya terbangkan
dengan pedang ini”.
Mendengar ancaman ini,
Abu Musa RA ketakutan
dan pergi ke Masjid Nabawi
untuk mencari saksi. Maka dalam perjalanan
berjumpalah dia dengan
Abdullah Bin Zubair RA. Dan
dia ceriterakan semuanya
apa yang terjadi kepada
Abdullah Bin Zubair. Maka Abdullah Bin Zubair
mengatakan bahwa : “Apa
yang engkau katakan itu
betul, karena dengan
perkataan laba’sa tadi, dia
sudah mendapatkan keamanan, dan saya akan
menjadi saksi. Mari kita
berjalan bersama-sama
menemui Amirul
Mukminin”. Maka Abdulah
Bin Zubair, mendatangi majelis Umar RA, dan
mengatakan: “Wahai Umar,
saya datang untuk menjadi
saksi Abu Musa, bahwa
dibalik katak-kata Laba’sa
itu adalah keamanan”. Kemudian Hadrat Umar
memasukkan pedangnya,
dan tidak jadi memenggal
leher tawanan tersebut, dan
Raja itu kembali pulang ke
tempatnya dengan mudahnya. Selanjutnya dia
kembali lagi ke Masjid
Nabawi, kemudian
mengucapkan syahadat.
Setelah itu Raja tadi
berkata: “Mengapa saya mengucapkan Syahadah ?.
Karena saya melihat umat
ini, bahwa hanya dengan
satu kata saja dari
Rasulullah SAW di hati
mereka yaitu dengan mengucap Laba’sa berarti
keamanan dan lainnya
menjadi saksi. Dengan satu
kata saja dipelihara di hati
mereka, orang lain sudah
menjadi aman. Bagaimana dengan ucapan Nabi SAW
dan seluruh amalan-amalan
Nabi SAW yang diikuti oleh
ummatnya.” Jadi apabila
orang yang mengerjakan
dakwah ini, ada perasaan ingin mema’afkan orang
lain, dan menyembunyikan
serta melindungi kesalahan-
kesalahan orang lain,
bahkan tidak mau mencari-
cari kesalahan orang lain, maka Allah SWT akan
letakkan kesan dakwah
kepada setiap hati-hati
manusia.Nabi SAW pulang dari salah satu perjalanan.
Kemudian di perjalanan,
Beliau istirahat dan tidur di
sana. Kemudian Nabi SAW
gantungkan pedangnya.
Lantas musuhpun melihat. Ketika para sahabat dan
Nabi SAW sudah tertidur
semua, dengan pelan-pelan
ia datang dan diambilnya
pedang Nabi SAW. Setelah
pedang dapat diambil, kemudian dihunus, maka
diancamlah Rasulullah SAW.
Maka ketika Nabi membuka
matanya dan bangun,
musuh tadi kemudian
mengatakan: “Wahai Muhammad, siapa yang
mampu untuk
mempertahankan dan
melindungi kamu dari saya”.
Maka Nabi katakan : “Allah” . Dengan kata-kata Allah , maka musuh tadi
tangannya gemetar dan
pedangnya jatuh. Kemudian
Nabi ganti ambil pedangnya,
dan mengatakan kepada
musuh tadi: “Siapa yang mampu untuk
mempertahankan kamu
dari saya”. Maka dia tidak
dapat berbicara apa-apa, dia
katakan: “Jadilah pemegang
pedang yang baik, atau ma’afkanlah saya”. Maka
Nabi memaafkan dan
membiarkan dia pergi.
Akhirnya, melihat akhlak
Rasulullah SAW yang luhur
ini, maka musuh tadi masuk Islam. Kita ini, kadang- kadang pada waktu
berkeliling kemudian
bertemu dengan seseorang,
dan orang tadi mengatakan
kata-kata yang tidak baik
atau kata-kata yang kotor, lantas sejak hari itu kita
tidak mau lagi bicara kepada
dia. Begitu pula para
penanggungjawab ini,
kadang-kadang ada
seseorang yang berbicara kepadanya dengan maksud
untuk memperbaiki
kesalahannya, lantas setelah
itu penanggungjawab tadi
kemudian selama dua bulan
tak mau bicara dengan orang tersebut. Padahal dalam dakwah ini walaupun
sepatu diletakkan di pipi
kita atau dipukulkan,
bagaimanapun juga kita
tidak akan tinggalkan
dakwah ini. Apabila kebesaran dakwah ini
tertanam dalam hati kita,
maka saat itulah Allah akan
bersama kita. Maka dari itu,
dalam dakwah ini kita harus
selalu siap memaafkan kesalahan dan kekurangan
orang lain. Dan yang
selanjutnya, bila selama kita
berdakwah pandangan kita
semata-mata hanya kepada
Allah, tidak memandang kepada yang lain. Apabila
kita pergi kepada orang
kaya atau pejabat-pejabat
atau kepada mereka yang
memiliki jabatan atau
keistimewaan, jangan sampai ada niat di hati kita
bahwasanya seandainya
mereka ikut dalam dakwah
ini maka dakwah ini akan
maju, dakwah akan
tersebar dengan cepat atau dakwah mendapat
keuntungan. Jangan punya
pikiran semacam ini. Tetapi,
hendaknya kita tanamkan
di hati kita, kalau mereka ini
ikut dalam dakwah, maka mereka akan mendapat
keuntungan dan dimuliakan
oleh Allah. Kalaulah kita letakkan akhirat di hadapan
kita, dan tidak memandang
yang lain atau mencari
keuntungan dunia, maka
senantiasa pada saat itu
Allah SWT akan pilih kita, sebagai asbab terbentuknya
dakwah ini dan dakwah ini
akan berjalan. Tetapi,
apabila kita letakkan dunia
di hadapan kita, misalnya
kita melakukan dakwah kepada seseorang dengan
pikiran : “Wah kalau dia ini
ikut dakwah maka kita bisa
membangun markas, kalau
dia ini ikut dakwah akan
berjalan dengan lancar”. Bila kita yakin dengan adanya
kelebihan-kelebihan
seseorang yang kita
dakwahi bahwa dakwah
akan berjalan, maka berarti
kita telah menghina dakwah ini. Oleh karena itu, dalam kita berdakwah ini
hendaknya dengan perasaan
takut. Pada saat kita
berdakwah dan
berdakwah, maka orang-
orang dunia akan ikut, tapi jangan sampai kita
mengambil keuntungan
dunia dari mereka. Bahkan
yang kita inginkan, mereka
dapat memberikan jiwa
mereka untuk dakwah. Karena kekuatan iman ini,
tidak dapat diperoleh dari
seseorang dengan
memberikan harta saja,
tetapi kalau seseorang telah
memberikan jiwanya, baru mereka mendapatkan
kekuatan iman. Jadi, kalau
seseorang memberikan
hartanya, dia akan
mendapatkan pahala, tetapi
kalau dia sendiri memberikan jiwanya, maka
dia akan mendapatkan
kekuatan iman. Inilah
pandangan kita setiap saat
dalam dakwah ini, yaitu
kita tujukan pandangan kita kepada kodrat Allah,
kepada khasanah Allah,
kepada kekuasaan-
kekuasaan Allah SWT. Pekerjaan dakwah ini mudah sekali, tetapi
untuk memahami kerja
dakwah, inilah yang sangat
berat. Sangat mudahnya
kerja dakwah ini,
sebagaimana mudahnya orang menarik becak atau
pekerjaan lainnya, tetapi
untuk memahami dakwah
tidak semua orang bisa
paham, bahkan tidak semua
ulama dapat dipahamkan. Untuk mengerjakannya
mudah sekali, seperti halnya
mengerjakan pekerjaan-
pekerjaan yang sudah
disebutkan sebelumnya.
Tetapi kepahaman tentang dakwah ini, tidaklah
mudah, hanya pemberian
dari Allah SWT, keberkatan
yang diberikan oleh Allah
SWT, dan diberikan hanya
kepada orang-orang yang beriman serta percaya
kepada yang ghoib. Pada
saat orang di hatinya ada
iman bil ghoib, pada saat
itulah Allah berikan
kepahaman dan hakekat tentang dakwah. Selama
iman bil ghoib tidak
tertanam dalam hatinya,
maka kepahaman dan
hakekat dakwah tidak
akan diberikan oleh Allah SWT. Dakwah kita ini, mengarahkan orang kepada
Al Quran. Dakwah kita ini
seperti Al Quran. Dan Al
Quran ini mudah dibaca.
Anak-anak umur 4 atau 5
tahun bisa membaca Al Quran. Tetapi untuk
memahami Al Quran
sangatlah berat, tidak
semua orang bisa
memahaminya. Bahkan
tidak semua ulama mempunyai kepahaman
yang sama tentang Al
Quran. Orang yang paham
Al Quran, adalah orang yang
tertanam iman di hatinya.
Orang-orang yang membaca-baca Al Quran
namun pandangan serta
keyakinan senantiasa
kepada benda, kepada
jabatan dan sebagainya,
maka Al Quran tersebut tidak akan memberikan
hidayah kepada dia, bahkan
menjadi asbab kesesatan.
Demikian pula orang yang
mengerjakan dakwah ini 4
bulan, 40 hari selalu dia kerjakan berkali-kali, tetapi
dia tidak meyakini bahwa
kejayaan, kesuksesan,
terletak pada dakwah,
namun di tengah-tengah
dakwah tadi dia masih mempunyai keyakinan
bahwa kebahagiaan,
kejayaan terletak pada
benda-benda, ada pada
jabatan dan lain sebagainya,
maka bagi orang semacam ini dakwah tersebut justru
akan menjadi kesesatan
pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, di setiap saat kita harus
menimbang dan mengontrol
hati kita. Jadi, kalau kita
dakwah, dakwah dan
dakwah terus, sementara
kecintaan kepada dunia semakin tertanam di hati
kita, maka dakwah ini nanti
akan habis dari kehidupan
kita dan akan hilang dari
kehidupan ini. Maulana
Yusuf Rah.A katakan, bahwa tidak ada satu
kekuatanpun yang akan
mampu menghancurkan
dakwah ini, tidak ada orang
yang mampu menghalang-
halangi dakwah ini, tetapi kapan dakwah ini akan
hancur dan akan rusak,
kalau sekiranya orang yang
kerja dakwah itu sendiri
ada dua perkara dalam diri
mereka. Pertama, pada saat orang tersebut dakwah
dan dakwah lagi, tetapi
kemudian muncul kecintaan
kepada dunia, dan dia
jadikan dakwah ini untuk
membentuk asbab dunianya, maka pada saat
itulah Allah akan hapuskan
dakwah dan dia sendiri
akan dihapuskan oleh Allah
SWT. Kedua, sekiranya orang yang kerja dakwah
ini di antara mereka pecah
hati. Di antara mereka
terjadi pertengkaran-
pertengkaran, maka apa
yang akan terjadi, Allah SWT akan hapuskan amalan
ini dari mereka dan Allah-
pun akan hilangkan usaha
dakwah ini. Maka dari itu, kita harus kerjakan dakwah ini
dengan penuh rasa takut.
Kita kerjakan dengan penuh
ikram. Dengan ikram kita
memberi semangat kepada
orang lain, dan jangan ada di hati kita perasaan untuk
ingin diikram. Orang
memanggil kita untuk
musyawarah atau tidak,
orang panggil kita untuk
makan di tempat makan atau tidak, dihargai atau
tidak dihargai, maka kita
harus terus melakukan
usaha dakwah ini. Jadi,
jangan sampai ada perasaan
di hati kita untuk dihormati oleh orang lain. Dan kita
kerjakan dakwah ini,
dengan meminta
musyawarah dengan semua
kawan. Apabila ada salah
seorang ahli syuro kita tidak hadir, atau teman-
teman kita bermusyawarah
belum hadir, maka kita
tunggu dia dan kita tunggu
dengan sabar sampai dia
hadir. Jangan punya pikiran di hati kita: “Ah, nggak apa-
apa dia tidak hadir, dakwah
masih tetap berjalan”. Maka
kalau timbul pikiran
semacam ini, atau
melecehkan sahabat kita, nanti akan timbul
kekurangan-kekurangan
dalam dakwah kita ini.
Jangan sampai kita
menunggu dia datang,
tetapi justru kita yang harus datang ke tempat dia. Dikisahkan, bahwa semua sahabat telah
berbai’at kepada Sayidina
Abu Bakar RA, tetapi masih
ada satu orang yang belum
datang. Maka Abu Bakar
As-Shidiq, tidak membiarkan orang tadi, dan
dia sendiri datang pagi dan
petang ke rumah sahabat
tersebut. Sampai akhirnya,
setelah lama kelamaan
maka orang tersebut timbul rasa cintanya kepada Abu
Bakar RA. Kemudian
dikatakan oleh Abu Bakar:
“Sebenarnya engkau ingin
apa dari aku ?. Saya ingin
engkau bersama-sama dengan orang Islam yang
lain”. Maka orang tadi
kemudian berkata: “Wahai
Abu Bakar, sekarang saya
siap untuk berba’iat
kepadamu”. Abu Bakar RA katakan: “Bukan itu
maksudku. Karena orang
lain sudah berba’iat di
tempat ramai, maka saya
berharap engkau juga
melakukan yang demikian”. Maksud Abu Bakar, agar
orang lain tidak shu’udhon
(buruk sangka) kepada
orang tadi, mengapa tidak
berba’iat kepada Abu Bakar
RA. Janganlah kita merasa merdeka atau bebas,
tanpa harus meminta
pendapat dari orang yang
lain dalam musyawarah,
tetapi hendaknya kita
hargai orang lain dan kita memberikan penilaian yang
baik terhadap semua
kawan-kawan kita.
Semakin kita hargai dan
kita nilai kawan kita
tersebut, maka timbul isti’dat (kesiapan) di hati dia
untuk senantiasa bekerja
dalam amal ini. Apabila
orang-orang lama ini,
senantiasa berpegang pada
ushul-ushul dakwah, dan dia tidak tinggalkan satu ushul-
pun juga, maka hal ini akan
memberikan kemudahan
bagi orang-orang yang baru.
Kalau orang lama senantiasa
dalam ushul dakwah dan selalu istiqomah, maka
selera dakwah akan
tertanam dalam diri dia
kemudian bagi orang baru
akan datang dan mudah
meningkat, dan akhirnya ada isti’dat untuk orang
baru dalam melaksanakan
dakwah sesuai dengan
ushul-ushul. Maulana Ilyas Rah.A mengatakan, bahwa
ushul dakwah ini adalah
merupakan benteng. Oleh
karena itu, selama kita
masih berada dalam ushul
dakwah, maka Allah SWT senantiasa membentengi
kita. Ushul dakwah itu
apa ?. Yang pertama adalah
kita selalu berpegang teguh
pada musyawarah. Bahkan
pekerjaan duniapun harus kita kerjakan dengan
musyawarah. Maka apabila
kita sudah berada dalam
lingkungan dakwah ini,
setiap amalan yang kita
lakukan harus berdasarkan musyawarah. Dan kalau ini
kita lakukan maka Allah
Ta’ala akan letakkan
kebaikan di dalamnya.
Keberkahan akan diberikan
oleh Allah. Dijauhkan dari segala bahaya. Bahkan
dipelihara dari kedengkian
orang lain. Dan Allah
bersama kita, serta
pertolongan-Nya selalu
bersama kita pula. Maka dari itulah, hendaknya kita
selalu berjalan dalam ushul
dakwah ini. Dan dakwah ini
adalah umumiyat tidak ada
kekhususan. Bahkan orang-
orang khusus seperti VIP, kita bawa pula kepada
umumiyat, sehingga tidak
ada lagi kekhususan bagi
mereka dan mereka akan
siap untuk menjadi orang
umum pula. Dakwah kita ini, tidak ingin menciptakan
ras-ras. Tidak ada
kekhususan, seperti adanya
jord khawash, jord dokter,
jord ulama dan lain
sebagainya. Untuk sementara satu atau dua kali
dapat dilaksanakan jord
profesi tersebut, tetapi
setelah itu mereka harus
bergabung dengan orang
umum dan tidak ada kekhususan lagi, mereka
harus membaur sehingga
ummat ini dapat disatukan.
Dakwah kita ini, bukan
berjalan dari atas ke bawah
tetapi dari bawah ke atas. Dari bawah akan naik ke
atas. Dengan cara ini, akan
timbul kecintaan atau
mahabah. Satu sama lain
akan saling menghormati. Lahan atau ladang pertama dalam usaha
dakwah kita ini, adalah
orang-orang miskin. Di
mana kita mulai dakwah
ini ?. Pertama adalah di
tempat-tempat orang miskin. Apabila kita berada
di kota, maka kita cari
tempat-tempat orang
miskin, atau di desa-desa
yang banyak orang
miskinnya, di situlah kita mulai kerja dakwah. Kita
buat kerja untuk orang
miskin, karena orang miskin
ini tidak punya gambaran
macam-macam seperti
halnya orang kaya, sehingga mereka mudah
dibentuk dan mudah
dibawa dalam ushul
dakwah. Karena mereka
miskin dan tidak dikenal,
maka kalau kita arahkan ke mana saja, mereka akan
ikut. Dan orang-orang
miskin ini, hati mereka
selalu tawajuh kepada
Allah, dan mudah
ditawajuhkan dalam amalan ini. Setelah orang miskin
dapat digarap, maka akan
muncul suatu saat dimana
orang-orang khawash,
orang kaya, orang cerdik
pandai bergabung dalam usaha dakwah, dan
program-program pun
mulai dapat diatur. Apabila orang- orang khusus ini datang dan
sifat tawadhuk belum
terbentuk pada diri mereka,
maka mereka tidak akan
membawa kebaikan dalam
usaha dakwah ini. Oleh karena itulah, konsentrasi
pertama kita bukan kepada
orang khusus tadi, tetapi
kepada orang miskin yang
hatinya masih lembut
mudah diatur. Orang miskin hatinya kecil dan orang
tidak menghagai mereka,
orang tidak menilai mereka,
maka kalau kita pergi
kepada mereka, kita
berkunjung dan berbicara dengan lemah lembut,
berbicara dengan baik,
maka mereka merasa
dihormati. Dengan
demikian, hati mereka
yang kecil tadi menjadi besar, karena merasa
dihargai. Orang kaya, kalau
meninggal dunia, semua
orang datang berkunjung.
Dan ini adalah hal yang
wajar. Tetapi, kalau orang miskin yang meninggal,
kemudian kita datangi
mereka, maka seanak
cucunya akan selalu ingat
kepada kita. Maka untuk
mendapatkan pertolongan Allah, untuk mendapat
segala yang kita kehendaki
dari Allah, hendaknya kita
mulai amalan ini dari orang-
orang miskin. Dan amalan
kita ini pada dasarnya adalah untuk
mengumpulkan semua
orang. Kita kumpulkan
semua orang, kemudian kita
bawa ke dalam amalan ini.
Kalau di hati kita ada perasaan kasih sayang,
kemudian tidak ada
perasaan dendam, selalu
mema’afkan dan ada sifat
dermawan, tidak bakhil,
maka semua orang akan datang dalam usaha
dakwah ini. Khalid Bin Walid, ketika belum masuk Islam
dan masih berada di
Mekkah, berkali-kali
didatangi oleh Rasulullah
SAW. Menurut pengakuan
Khalid Bin Walid, ketika Rasulullah SAW
mendatanginya, Rasulullah
SAW dihina dan dicaci maki
dengan kata-kata yang
sangat kotor, dengan
harapan agar Rasulullah SAW tidak akan datang lagi
kepadanya. Ternyata,
besoknya Rasulullah SAW
datang lagi dan terus
dilakukannya berkali-kali
selama Beliau berada di Mekkah, dan selama itu pula
Khalid Bin Walid tidak
pernah bersedia untuk
masuk Islam. Kemudian
Rasulullah SAW hijrah ke
Medinnah, kemudian terjadi perang Badar. Dan terjadi
pula perang Uhud. Bahkan
karena keahlian Khalid Bin
Walid dalam perang Uhud,
banyak orang Islam
Medinnah yang meninggal, dan masih saja dia belum
masuk Islam. Setelah itu, saudara Khalid Bin Walid masuk
Islam, dan setelah masuk
Islam ia pergi ke kota
Mekkah. Maka Nabi SAW,
sampaikan satu kata kepada
Khalid Bin Walid melalui saudaranya tadi. Akibat
kata-kata ini, Khalid Bin
Walid masuk Islam. Apa
yang dikatakan Nabi
SAW ?. Kata Nabi SAW
kepada saudaranya Khalid Bin Walid: “Nanti sampaikan
salam saya kepada Khalid
Bin Walid dan katakan
bahwa Khalid Bin Walid itu
orangnya adalah baik”.
Setelah mendengarkan kata-kata tersebut dari
saudaranya, maka Khalid
Bin Walid menangis. Dan
ketika itu pula timbul
keinginannya untuk
menjumpai Rasulullah SAW, kemudian langsung datang
ke kota Medinnah. Banyak sekali sahabat-sahabat Rasulullah
SAW, sebelum masuk Islam
sudah bersumpah
bagaimanapun juga sampai
mati mereka tidak akan
masuk Islam, termasuk Khalib Bin Walid, Amar Bin
Ash, Abu Sofyan, Hindun,
Ikramah Bin Abu Jahal.
Tetapi dengan kesabaran
para sahabat, pengorbanan
para sahabat RA, Allah SWT lembutkan hati-hati mereka
yang keras tadi. Di pertengahan jalan menuju ke Madinnah,
Khalid Bin Walid bertemu
dengan Amr Bin Ash,
kemudian ditanyalah dia :
”Kemana engkau pergi ?”.
Dijawab: “Islam sudah masuk ke dalam hati saya,
dan saya akan menuju ke
Madinnah”. Dan dua-duanya
kemudian pergi bersama-
sama sampai ke Madinnah.
Dikatakan oleh Khalib Bin Walid : “Kalau orang
menanyakan kepada saya,
bagaimana wajahnya Nabi
bagaimana bentuknya Nabi,
pada waktu masih di
Mekkah, saya tidak pernah dapat mengatakannya.
Karena saking bencinya
saya kepada Nabi, sehingga
saya tidak pernah
memandang rupanya. Dan
saya tidak tahu wajahnya macam apa. Hari ini – setelah
ia masuk Islam – kalau ada
orang menanya tentang
wajah Nabi, sayapun juga
tidak dapat
menyifatkannya, karena saking malunya saya
melihat wajah Beliau”.
Begitulah akhirnya
berturut-turut orang yang
pernah membenci Nabi,
kemudian masuk Islam. Sehingga Abu Sofyan
katakan: “Sebenarnya saya
tidak masuk Islam, tetapi
Islam yang telah masuk ke
dalam diri saya”. Kapan Islam ini akan tersebar di seluruh
dunia ? Islam akan tersebar
ke seluruh dunia kalau
dalam hati kita ada
perasaan cinta dan kasih
sayang kepada orang lain. Jangankan kepada orang
lain, muncul rasa kasih
sayang dan cinta itu, bahkan
dalam usaha dakwah ini,
kadang-kadang kepada
saudara kandung sendiri, kita tidak punya rasa kasih
sayang dan cinta tersebut.
Bagaimana akan datang
pertolongan Allah ?. Jadi
dakwah ini, penuh dengan
kesabaran, penuh dengan penderitaan, penuh dengan
pengorbanan, meskipun hati
kita dikoyak-koyaknya,
tetapi tetap saja dakwah
harus kita kerjakan. Maka
apabila dakwah ini kita kerjakan dengan sabar,
dengan kasih sayang,
dengan perasaan ingin agar
kebaikan ada pada orang
lain, maka pada saat itu
Allah SWT akan sebarkan dakwah ini ke dalam hati-
hati orang. Hendaknya tiap hari dan tiap malam, kita
adakan muhasabah dan
muraqobah kepada diri
sendiri, berapa banyak sifat
yang sudah ada dan
tertanam dalam diri kita ini. Maksudnya, agar supaya
hilang sifat-sifat yang hina
dalam diri kita dan
bagaimana supaya datang
sifat-sifat yang baik.
Apabila dalam hati kita sudah ada sifat-sifat yang
baik, sifat sabar, sifat kasih
sayang, sifat
kedermawanan, sifat mau
memaafkan, dan segala
sifat-sifat yang baik, maka Allah SWT akan sebarkan
dakwah ini. Pada saat sifat-
sifat ini sudah ada pada diri
kita, maka Allah SWT akan
sebarkan hidayah, dan
merupakan kenikmatan dan keindahan di dunia ini,
apabila Allah SWT telah
menjadikan kita sebagai
asbab turunnya hidayah
untuk orang lain.
Sehubungan dengan ini, Rasulullah SAW pernah
katakan kepada Sayidina
Ali RA : “Wahai Ali, apabila
Engkau dapat menjadi asbab
hidayah kepada orang lain,
maka itu lebih baik daripada dunia dan seisinya”. Nanti di hari kiamat, setiap orang dari
ummat Rasulullah SAW,
akan membawa ribuan
orang di belakangnya.
Melihat ini, maka para
Anbiya bartanya kepada Malaikat: “Wahai Malaikat,
ini Nabi siapa sehingga
banyak orang berjalan dan
mengikuti di
belakangnya ?”. Maka
Malaikat katakan: “Itu bukanlah para Nabi, tetapi
mereka adalah ummat
Rasulullah SAW “. Karena
usaha dakwah inilah, maka
ummat Rasulullah SAW,
yang merupakan ummat terakhir ini, akan dihisab
pertama dan yang pertama
kali akan masuk sorga
sebelum ummat-ummat
yang lain. Oleh karena itu,
hendaknya ditanamkan betul-betul sikap
tanggungjawab untuk
berdakwah setiap saat
kepada seluruh ummat.
Orang yang sudah
berdakwah, hendaknya setiap hari bersyukur
kepada Allah dan kepada
mereka yang belum
mengambil bagian dalam
dakwah ini, harus kita
datangi setiap pagi dan petang dan pada malam
harinya kita menangis, agar
mereka ikut ambil bagian
dalam usaha dakwah ini.
Caranya dengan selalu
bermusyawarah, dan kalau ini kita lakukan maka kita
akan dapat menyatu dalam
amalan ini. Hendaknya kita selalu bermusyawarah
dengan ahli syuro. Dan
kepada ahli syuro baik yang
di tingkat Indonesia yang
telah dibentuk maupun
syuro-syuro lainnya ini, janganlah bersikap sebagai
Amir. Bagi syuro yang
harus dipikirkan
hendaknya, dia merasa
sama seperti teman-teman
yang lain dan harus punya pikiran bahwa untuk
menguatkan dan
mengembangkan usaha ini,
maka Allah SWT telah
meletakkan pada
kedudukan semacam ini. Demikian pula, ahli syuro
harus memperhatikan
teman-teman tadi, dan
selalu memperhatikannya,
sampai ke level manakah
teman-teman tadi dapat ditingkatkan. Setiap orang
dilihat dan dinilai sejauh
manakah levelnya dapat
ditingkatkan. Setelah kita
tahu kemampuan tadi, baru
kita gunakan sahabat tadi sesuai dengan tingkat
kemampuan dan level yang
dapat mereka kerjakan. Dan
kita gunakan mereka itu,
bagaimana untuk dapatnya
memenuhi takazah. Bagaimana kita berfikir agar
mereka dapat
menyelesaikan takazah
yang dibebankan
kepadanya dan bagaimana
kita dapat meningkatkan pengorbanan mereka. Maka
dengan demikian, dakwah
ini akan terus dapat
meningkat. Dan setiap saat,
hendaknya kita lihat amal
maqomi kita masing- masing. Di samping kita memikirkan untuk
menggarap seseorang, kita
harus pula memikirkan diri
sendiri, bagaimana harus
selalu bertasbiah, tilawah
Qur’an, tahajud, sholat di shaf yang pertama, tidak
pernah ketinggal takbiratul
ula. Amalan-amalan untuk
diri sendiri, hendaknya
disempurnakan dalam
dakwah ini. Inilah yang dinamakan usaha sholihin.
Selanjutnya, bagaimana kita
menghidupkan maqomi
kita, yaitu lima amalan,
dimana setiap masjid ada
amal maqomi tersebut. Masalah lain yang perlu
diperhatikan lagi dan
ditanamkan di hati kita,
yaitu kawan kita kerja atau
tidak kerja yang penting
saya sendiri harus kerja. Kalau kita hanya melihat ini
tidak kerja, itu tidak kerja,
maka ini berarti kita tidak
menghargai amalan dakwah
ini. Apabila kita melihat
orang lain tidak kerja, tetapi kita tetap kerja terus, maka
Allah SWT akan tanamkan
kebesaran usaha dakwah ini
dalam hati kita, dan Allah
akan senantiasa bawa kita
dalam usaha dakwah ini. Dan Allah SWT nanti, akan
buatkan teman-teman
untuk kita. Bagaimana Nabi
SAW kerja sendiri, tetapi
karena istqomah Beliau,
maka Allah SWT kirimkan ribuan orang di belakang
Beliau. Demikian pula
Maulana Ilyas Rah.A, pada
mulanya Beliau kerja sendiri
tetapi karena istiqomah
Beliau, maka Allah kirimkan jutaan ummat di belakang
Beliau. Jadi, yang membawa
amalan ini adalah Allah
Ta’ala. Apabila di hati kita
ada tholab yang betul,
keinginan yang betul, kerinduan yang betul, maka
Allah SWT nanti akan
membawa kita senantiasa
dalam usaha dakwah ini. Marilah kita tawajuhkan dan kita fikir
secara betul, bahwa usaha
ini tidak akan berjalan
hanya mengandalkan tiga
perkara. Dakwah tidak
berjalan dengan perkataan saja. Tidak juga dengan
tulisan-tulisan saja. Juga
tidak dengan program yang
kita buat dengan otak kita
ini. Tetapi dakwah ini akan
berjalan dengan tiga perkara. Pertama, dengan
fikir, kalau semuanya ini
fikirnya hanya satu, maka
dakwah akan berjalan.
Kedua, dengan do’a. Dan
ketiga dengan usaha dan mujahadah serta berkorban.
Apabila ketiga perkara ini
ada pada diri kita, maka
usaha dakwah akan
berkembang dan terus
berkembang. Dikatakan oleh Maulana Ilyas Rah.A,
bahwa: “Saya tidak takut
kepada orang-orang yang
tidak mengerjakan amalan
ini. Yang saya takuti, adalah
orang yang tidak mengerjakan amalan ini,
tetapi dia merasa bekerja”. Oleh karena itu, kerjakan pekerjaan ini dan
baru nanti Allah akan
memberikan pertolongan.
Kita kerjakan taklim, jaulah,
khuruj, baru nanti 6 sifat itu
akan ada pada diri kita. Jadi pekerjaan kita ini, adalah
untuk mewujudkan 6 sifat
tersebut. Bagaimana 6 sifat
ini belum tertanam dalam
hati kita, kemudian kita
berusaha untuk mewujudkannya, inilah
yang dimaksudkan dengan
usaha dakwah. Sedangkan
taklim, jaulah dan khuruj
itu adalah sebagai sarana
untuk mewujudkan 6 sifat tersebut ada dalam diri kita.
Enam sifat ini bukan
merupakan kesempurnaan
agama, tetapi untuk
menanamkan isti’dat dalam
mewujudkan agama. Enam sifat bukanlah
kesempurnaan agama,
tetapi kesempurnaan agama
ada dalam enam sifat ini.
Apabila enam sifat sudah
tertanam dalam diri kita, maka akan ada
kesanggupan untuk
melaksanakan agama secara
sempurna. Jadi enam sifat
itu tidak ada di luar agama,
tetapi enam sifat itu ada di dalam agama. Apakah ada
agama Islam ini tanpa iman,
apakah ada agama tanpa
sholat, apakah ada agama
tanpa ilmu dan dzikir,
apakah ada agama tapa menghormati satu sama
lain, apakah ada agama
tanpa keikhlasan, maka di
dalam agama Islam ada
sifat-sifat tersebut, sehingga
bagi siapa saja yang ada sifat-sifat itu, maka Allah
SWT akan memberikan
taufiq untuk memudahkan
melaksanakan agama yang
sempurna. Maulana Ilyas Rah.A setelah membaca Al
Quran, membaca hadits lagi
dan lagi, dan melakukan
pengorbanan dalam
dakwah ini, maka Beliau
mengambil ringkasan bahwa dakwah kita ini
adalah enam sifat. Oleh
karena itu, bagi karkun
yang mengerjakan amalan
dakwah ini, maka
hendaknya senantiasa setiap hari menengok, berapa
banyak enam sifat ini sudah
ada pada dirinya. Makin
tertanam enam sifat ini
dalam diri seseorang, maka
orang tersebut akan semakin meningkat dan
meningkat. Tetapi kalau
enam sifat ini tidak datang,
meskipun dia bekerja dan
bekerja terus serta enam
sifat tidak ada pada diri dia, maka dakwah ini akan
terus tersebar dan
berkembang serta banyak
orang yang ikut dalam
dakwah, namun dia sendiri
tidak meningkat. Jadi setiap kita berdakwah, kita juga
harus berusaha untuk
menciptakan enam sifat
dalam diri kita. Enam sifat
ini, tidak akan datang
dengan takrir saja, atau kita bicarakan, bicarakan dan
bicarakan terus, tapi
bagaimana agar enam sifat
ini ada dalam muamalah
kita, muasyarah kita dan
dalam semua aspek kehidupan kita senantiasa
kita letakkan enam sifat di
sana. Kita harus senantiasa letakkan iman,
berbicara dengan landasan
iman, mendengar dengan
landasan iman, berdagang
dengan landasan iman,
mualah dan muasyarah serta semuanya selalu
berlandaskan dengan iman,
maka untuk menanamkan
keimanan dalam diri kita
adalah kefardhuan bagi
setiap individu. Dan tanamkanlah pada diri kita,
bahwa kejayaan,
kebahagian dan kesuksesan
kita bukanlah ada pada
bentuk-bentuk seperti
perdagangan dan lain sebagainya, tetapi kejayaan,
kebahagian dan kesuksesan
hanya terletak pada amalan-
amalan seperti yang telah
ditunjukkan oleh Rasulullah
SAW. Kejayaan bukanlah terletak pada banyaknya
keuntungan yang kita
dapatkan dari toko kita,
tetapi sejauh mana kita
letakkan amalan dan sunnah
Rasulullah SAW dalam toko kita tadi. Apabila dalam
toko ini kita bawa amalan
Nabi SAW kita bawa sunnah
Nabi SAW, maka Allah akan
jayakan kita dalam toko
kita, dan Allah jadikan toko tersebut sebagai asbab
kejayaan kita. Tetapi kalau
dalam toko kita tidak ada
amalan Nabi SAW,
walaupun kita mendapat
keuntungan sekian juta, maka Allah akan hancurkan
keuntungan itu. Dan dakwah ini ada qouli dan amali, ada dengan
perkataan dan ada dengan
amalan. Dakwah qouli atau
dakwah dengan perkataan,
ditujukan kepada orang
Islam. Misalnya, ta’atlah kamu kepada Allah, imanlah
kamu kepada Allah,
sholatlah dirimu, semua
kata-kata dakwah ini kita
tujukan kepada orang
Islam. Sedangkan dakwah dengan amalan atau
amaliyah adalah untuk
semua manusia. Bagaimana
kita berdakwah dengan
amalan di toko, kita
tunjukkan akhlak Nabi , bagaimana berdagang
dengan betul, dengan
kejujuran, dengan amanah,
begitu pula dengan
muamalah dan muasyarah
kita, maka dakwah semacam ini yaitu dengan
amalan ditujukan untuk
semua manusia. Dan orang
tidak terkesan dengan
ucapan kita dalam dakwah,
tetapi orang akan terkesan dengan amalan kita dalam
berdakwah. Demikian pula kemurtadan juga ada dua,
yaitu murtad qouli dan
murtad amali. Sekarang
orang Islam tidak murtad
dengan qouli atau dengan
ucapan, misalnya dengan ucapan dia tidak merubah
syahadat, tetapi
kebanyakan orang Islam
hari ini telah murtad dalam
amalan. Dia tidak kerjakan
sholat, dia tidak kerjakan puasa, dia tidak kerjakan
haji dan dia tidak kerjakan
amalan-amalan agama,
maka inilah yang disebut
amalan murtad dalam
kehidupan agama Islam. Jadi sekarang ini, sasaran
kita berdakwah adalah
orang-orang Islam sendiri,
karena mereka sudah
murtad dalam amalan
agama. Oleh karena itu sebelum mereka murtad
dengan qouli, maka lahan
dakwah kita ini adalah
seluruh orang Islam
tersebut. Kenapa ? Karena
mereka hanya murtad dalam amalan saja. Maka
dari itu, sekarang kita
jumpai seluruh ummat
Islam, karena mereka belum
murtad secara qouli, belum
menjadi orang kafir, sehingga merekalah yang
menjadi sasaran dakwah
kita ini. Kita harus berusaha
terhadap orang Islam,
untuk mengembalikan
amalan mereka kepada amalan yang betul, maka
pahalanya dan nilainya akan
lebih tinggi daripada meng-
Islamkan 10 orang kafir.
Inilah tanggung jawab yang
cukup besar, kemana ummat ini akan pergi. Sebenarnya ummat ini adalah ummat yang
betul-betul dicintai oleh Nabi
SAW dan ummat yang
betul-betul disayangi oleh
Nabi SAW dan ummat yang
betul-betul dirindukan oleh Nabi SAW, tetapi kemana
ummat ini sekarang, karena
ummat yang dincintai,
disayangi dan dirindukan
oleh Nabi SAW saat ini
sudah tidak ada lagi. Dengan pengorbanan Nabi dengan
tangisan Nabi SAW, ummat
terwujud, tetapi sekarang
kemanakah ummat ini ?